Perut saya dihajar masakan bebek hari ini. Namun demikian, saya menikmati. Rasa daging bebek yang lebih gurih bagi indra perasa saya dibandingkan ayam membuat saya tak berdaya menolak.

Pagi hari, saya sudah beli masakan bebek di dekat Gedung Wanita (Bogor Permai). Warung Sego Bebek Suroboyo ini merupakan tempat yang sering saya sambangi. Biasanya saya mampir beli untuk dibawa pulang buat lauk sarapan. Pagi ini agak beda. Saya beli bukan untuk sarapan melainkan sebagai lauk makan siang. Masakan bebek yang dijual hanya satu macam, tapi tak pernah membosankan. Bentuknya semacam kari, hanya saja kuahnya lebih kental berwarna hitam kehijau-hijauan. Meski dari segi tampilan tak menarik, rasanya lezat dan membuat ketagihan. Sampai saat ini, saya belum pernah menemukan jenis masakan berbahan bebek yang seperti itu di tempat lain. Sudah berkali-kali saya berburu di seantero Bogor tapi belum menemukan yang sejenis hingga sekarang. Jadi untuk sementara, dia penjual satu-satunya untuk jenis bebek olahan seperti itu di Bogor.

Sorenya dapat undangan makan di tempat makan yang menjual masakan bebek. Dari namanya, tempat ini menjual beragam menu yang semua terbuat dari bebek yang juga jadi andalan. Sayangnya pedagang masakan bebek yang merupakan waralaba ini tidak bertahan lama. Dia sudah tidak lagi berada di lokasi tersebut setelah menjalankan usaha selama (mungkin) dua tahun. Konon kabarnya dia pindah ke daerah Yasmin. Persisnya di mana, saya tidak tahu. Saya sendiri tak ada niat mencari. Biarlah dia berada entah di mana karena meski menu andalannya berbahan baku bebek, citarasanya tak membuat saya tergerak untuk mencari.

Bogor memiliki beberapa tempat makan yang menu andalannya bebek atau bahkan hanya bebek. Tak ada menu lain selain bebek seperti ayam, ikan, atau daging. Mereka ada yang waralaba, ada pula yang pakai nama sendiri. Bahkan ada yang warungnya tak punya nama, cuma menyebut masakan yang dijual. Kalau sekadar menikmati masakan bebek di Bogor, Anda punya banyak pilihan. Dari semua masakan bebek yang sudah saya coba, hanya warung bebek dekat Gedung Wanita yang paling lezat buat saya. Satu lagi yang kelezatannya tak beda jauh meski jenis olahannya berbeda adalah bebek goreng serundeng yang ada di Jln. Pandu Raya sederetan dengan sekolah TK Akbar. Mungkin berjarak 300m atau 400m setelah TK itu bila kita datangnya dari arah perempatan Warung Jambu. Bebek yang digoreng setelah dibumbui kemudian dijajakan di gerobak di atas trotoar. Selain gurih, bebek gorengnya ada rasa manisnya. Yang membuat rasanya makin menggoyang lidah adalah sambalnya yang kehijau-hijauan. Entah apa saja ramuan yang dipakai sebagai resep sambalnya. Di dekat gerobak dagangan ada bangku dan meja sederhana kapasitas tiga orang untuk mereka yang makan di tempat.

Bagi lidah saya, citarasa daging bebek lebih lezat dibandingkan unggas lain. Asalkan mengolahnya benar. Bila tidak, bau prengus dagingnya wal khususon daging menonjol yang berada di pantatnya tempat bulu ekor menempel akan menguar dan mengurangi kenikmatan. Antara kelezatan dan aroma prengus itu seperti dua kutub yang berseberangan. Bila aroma itu bisa ditaklukkan, tinggallah lezatnya. Untungnya, seingat saya, semua bebek di tempat makan yang saya datangi tak mengeluarkan aroma atau terasa prengus.

Bagaimanapun juga, selezat-lezatnya daging bebek, bila lidah ini dihajar terus-terus menurus dalam sehari oleh masakan bebek, saya terpaksa harus angkat tangan atau mengibarkan bendera putih.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here