baru aku tahu cinta itu apaSeandainya suara saya seindah milik Sammy mantan vokalis Kerispatih atau Pasha Ungu, barangkali saya akan menyuarakan perasaan saya keras-keras seperti yang dilakukan Indah Dewi Pertiwi dalam Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa.

Memang benar apa yang dilantunkan penyanyi asal Bogor itu. Kadang-kadang kita baru merasa kehilangan ketika apa yang biasanya ada di dekat kita tiba-tiba sirna. Sesuatu itu hilang entah karena sedang berada di tempat lain, telah menjadi milik orang lain, atau mungkin karena telah dijemput el maut. Kehilangan itu begitu terasa setelah orang yang disayang pergi, kegiatan yang biasa dijalankan bersama atau rutinitas yang dihadapi setiap hari mendadak tidak ada lagi. Kehampaan hadir. Kesepian datang di tengah keramaian.

Saya baru merasakan apa yang Indah nyanyikan. Ternyata rasa sayang saya kepada anak dan istri begitu kuat. Namun tanpa disadari, kebersamaan yang dijalani selama ini hingga menjadi sebuah rutinitas menyebabkan tenggelamnya rasa sayang itu. Keberadaan mereka di sekeliling saya dan setiap hari bisa melihatnya membuat saya abai dengan perasaan sayang saya kepada mereka. Baru ketika anak yang terbesar saya menginap di rumah temannya dan istri keluar kota dan menginap pula, saya merasakan makna tali kasih dalam keluarga. Anak saya yang suka menjengkelkan bila ada di rumah, ternyata saya rindukan kehadirannya. Istri yang kadang saya acuhkan karena suatu kesibukan, mendadak saya nantikan kedatangannya. Inikah yang namanya Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa?

Merasa memiliki kadang membuat kita lupa bahwa semua yang kita punyai sebenarnya hanya titipan. Keluarga tidak terkecuali merupakan amanah dari Sang Penguasa. Sense of belonging yang lebay terhadap keluarga sudah pasti akan membutakan mata dan menimbulkan pengingkaran bahwa anak dan istri/suami itu sebenarnya bukan milik pribadi. Akibatnya, karena ingin membahagiakan mereka, menjadi mungkin kita kemudian melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Bukan hanya hukum buatan manusia, bisa jadi bahkan hukum Alloh.

Koruptor bisa dijadikan contoh betapa lebay-nya sense of belonging yang mereka miliki. Tidak hanya kepada keluarga rasa memilikinya itu ditujukan, tetapi juga kepada harta yang mereka korup. Rasa memilikinya menunjukkan kerakusannya. Sense of belonging-nya memperlihatkan kemiskinannya. Jangan menganggap koruptor itu orang kaya. Sebenarnya mereka miskin di atas hartanya yang melimpah. Orang kaya selalu akan merasa berlebih. Orang yang selalu merasa kekurangan, apalagi kalau namanya bukan orang miskin? Itulah sebabnya mengapa koruptor tidak pernah merasa kaya. Karena harta yang dimiliki tidak akan pernah bisa memuaskan dahaga kerakusannya, jangan heran bila mereka terus korupsi.

Benar bila ada yang mengatakan untuk bersikap seperti tukang parkir. Seberapa banyakpun dan mewahnya mobil yang menjadi tanggung jawab si tukang parkir, dia tidak akan marah dan merasa kehilangan saat mobil itu diambil pemiliknya. Ketika kita dapat bersikap seperti itu terhadap semua yang merasa kita miliki, barangkali yang kita rasakan seperti yang dirasakan si tukang parkir ketika ’milik’ kita itu diambil yang punya. Bisakah? Sebuah pertanyaan yang bisa menjadi gampang untuk dijawab dan sangat mungkin juga merupakan pertanyaan yang amat sangat sulit diiyakan.

Untuk menjadi rela memang diperlukan perjuangan. Namanya juga manusia, wajar bila tidak rela saat kesenangannya diambil. Menjadi kecewa dan berduka ketika hal-hal yang menggembirakan baginya tiba-tiba tiada. Kerelaan akan menjadi sangat sulit terutama bagi kita yang jarang atau malah tidak pernah berbagi ke sesama. Kebiasaan menikmati kesenangan sendiri akan sangat sulit untuk menjadikan seseorang rela berbagi. Itulah sebabnya, orang-orang semacam ini perlu latihan, butuh perjuangan, untuk mulai belajar berbagi. Andakah itu?

Ketika rela sudah dimiliki, kesadaran segala kepunyaan hanya titipan akan hadir. Dengan demikian saat yang dipunyai tersebut tidak ada, kita tidak perlu lagi bernyanyi bersama Indah. Saya mungkin belum bisa untuk tidak bernyanyi Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa karena merasa belum sepenuhnya bisa menganggap anak dan istri saya hanya titipan. Begitu juga dengan suara yang saya miliki. Saya masih belum bisa menerima jika suara saya tidak indah. Ah kalau yang ini sih bukan Baru Aku Tahu, tetapi nggak mau tahu dan nggak tahu diri. Indahkah suara anda seindah suara Indah?

Sumber gambar: di sini

13 COMMENTS

  1. iya mr wkf, kadang karena sering kita lakukan, kita akan menganggap hal tersebut biasa

    pada kenyataannya hal tersebut adalah luar biasa

    dengan lebih “aware” kita diharapkan menyadari hal luar biasa itu

    cinta.

  2. Patut direnungkan..layaknya seorang tukang parkir, demikianlah kita. cuma entuh pas ngomongin anak, istri, keluarga pengen rasanya cepet-cepet punya keluarga sendiri. hehe pish ah

  3. Wah.. tumben nih agak ‘melow’ begini ya tulisannya… πŸ˜€ Apa jangan2 kesambet ‘Intan Ayu’? hehehe…

    Tekadang rasa ‘sense of belonging’ itupun menjadikan kita terlalu sibuk meniti karir dan pekerjaan hanya karna alasan ‘ingin membahagiakan mereka’, sehingga kadang mereka terabaikan…

  4. @sucie: harus, harus saling menyayangi, bukan hanya kepada keluarga ke orang lain juga. thx 4 the regards, send mine to your fam too πŸ™‚

  5. menurut saya perasaan terhadap keluarga kadang2 terasa rumit, kalau sering ketemu jadi suka lupa mengingat bahwa kita saling menyayangi… tapi saat tidak bertemu barulah ingat lagi…
    baru2 ini saya kehilangan seseorang yang sudah seperti ayah sendiri bagi saya, beliau meninggal karena sakit.. rasanya sedih dan saya sangat menyesali kenapa tidak lebih perhatian ketika beliau masih ada…. Nah, daripada seperti itu, sebelum terlanjur… mungkin sebaiknya harus selalu ingat (saling mengingatkan) bahwa keluarga itu saling menyayangi…. regards for your family….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here