Pertama kali ke Bandung 27 Juli 1989. Saat itu Bandung begitu dinginnya. Maklumlah, saya biasa tinggal dan besar di daerah pantai yang panas. Ketika long weekend kemarin (22-24 April) saya mengunjungi kembali kota itu. Aaahhh… Bandung ternyata masih sejuk, meskipun tidak sedingin dulu.

Seharusnya tulisan ini dibuat dua minggu yang lalu. Gara-gara penyakit lama kambuh (malas 😉 ), baru sekarang deh dibuat. Tapi nggak apa-apalah, yang penting sudah beres sekarang. Ya, ke Bandung sudah beberapa kali saya datangi baik sekedar lewat maupun menginap. Saat kunjungan kemarin, saya, istri dan kedua anak saya menginap dua malam di Isola Resort yang ada dalam komplek UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Karena tidak begitu perhatian, saat sampai di hotel itu saya pikir hotelnya kecil. Namun ketika esok harinya saya jalan-jalan dan memperhatikan hotel tempat saya menginap, rupanya besar juga. Enaknya lagi, meskipun berada dalam lingkungan kampus, ternyata di samping hotel itu ada jalan pintas menuju Jl. Geger Kalong Girang dekat pesantrennya aa Gym. Di sepanjang jalan itu terdapat banyak penjualan makanan dengan harga mahasiswa. Hal itu tidak mengherankan karena memang di sekitar dan sepanjang jalan itu tersebar tempat kos mahasiswa UPI. Bagi saya sangat menguntungkan karena bisa menghemat uang makan. Tahu sendiri kan harga makanan di hotel, bisa berlipat-lipat.

Dari Jl. Geger Kalong Girang, kita cukup berjalan kaki menuju Jl. Dr. Setiabudhi untuk naik angkot ke arah kota. Dengan tarif Rp3000 per orang saya bersama istri dan kedua anak saya, keesokan harinya kami menuju BIP (Bandung Indah Plaza). Namun sebelum ke pusat perbelanjaan itu, kami masuk ke toko buku Gramedia yang ada di seberangnya selain BIP nya sendiri memang belum buka. Di toko buku itulah kami tinggal berlama-lama. Tempatnya yang begitu luas tetapi dengan waktu yang terbatas menyebabkan kami tidak bisa mengeksplorasi seluruh buku yang dipajang. Harus menyediakan waktu lagi untuk bisa menuntaskannya. Dan di tempat itulah uang jajan yang terbanyak yang kami keluarkan. Untuk urusan buku, rasanya berapapun uang yang dibelanjakan tidak akan dianggap besar termasuk di toko buku ini. Setelah comot sana ambil sini, buku yang terkumpul dan dibeli ternyata nilainya lebih dari setengah juta. Buat yang banyak duit jumlah segitu mungkin masih terlalu kecil. Buat saya yang uangnya pas-pasan, setengah juta lebih tentu saja bukan nilai yang kecil. Akan tetapi, karena kami semua pecinta buku, uang sebesar itu kemudian menjadi tidak bernilai. Kami lebih menghargai buku daripada uang. 😉

Selesai belanja buku, barulah kami menyeberang jalan menuju BIP. Kami ada janji ketemu dengan teman yang tinggal di Bandung di depan mal itu sekitar pukul 13.00 WIB. Sementara menunggu, buku yang barusan dibeli dibongkar. Sambil berdiri atau jongkokpun nggak masalah untuk membaca. Kami nggak boleh duduk di teras depan mal. Setiap ada yang duduk selalu ada satpam datang untuk memperingatkan. Hujan lebat juga sempat mengguyur. Begitu teman-teman yang ditunggu sudah datang, kami bertegur sapa sesaat sebelum menuju ke lantai tiga BIP untuk makan siang.

Food court di BIP ada di lantai tiga. Kami makan siang di tempat itu bersama teman-teman. Karena memang lagi jam makan siang, tempat itu begitu penuh pengunjung. Tidak gampang mencari tempat duduk yang bisa menyatukan kami yang bertujuh. Akhirnya diputuskan jadi dua kelompok. Meskipun terpisah dan tidak berdekatan, setidaknya bisa duduk nyaman. Sambil menunggu pesanan, kantong keresek isi buku dibongkar lagi. Lebih mengasyikkan menunggu makan siang datang sambil membaca daripada bengong. Betul?

Makan siang selesai. Istri dan tiga temannya yang merupakan mantan teman kerja dan teman kuliah rupanya masih belum puas kangen-kangenannya. Agar mereka tuntas ngobrolnya, saya dan kedua anak saya pulang duluan ke hotel. Dia akan menyusul. Saat itu sudah jam 15.00 WIB lebih. Seperti saat berangkat tadi, kami kembali naik angkot menuju ujung Jl. Geger Kalong Girang yang ada di pertigaan jalan sebelum kampus UPI. Dari situ kemudian jalan kaki lewat jalan pintas yang tembus samping hotel.

Malam itu kami sengaja nggak keluar meskipun malam Minggu. Bandung pasti ramai di malam Minggu, apalagi langit begitu cerah. Kami lebih memilih tinggal di kamar untuk menonton siaran langsung MU lawan Everton. Mumpung di kamar hotel ada TV kabel, kami bisa memilih ESPN untuk menonton acara tersebut. Kesempatan langka seperti ini tidak boleh disia-siakan. Maklum, di rumah tidak ada ESPN dan yang terpenting biasanya layar televisi suka banyak semutnya, tidak bening seperti yang sekarang lagi ditonton di kamar hotel. Saat pertandingan baru dimulai, istri datang. Rupanya dia juga tidak mau ketinggalan permainan kesebelasan favoritnya MU. Kami sekeluarga memang penggila bola meskipun tingkat kegilaannya belum sampai stadium tiga (parah). 😉

Paginya kami siap-siap kembali ke Bogor. Jam 09.00 WIB kami sudah berada di lobby hotel menunggu travel yang sudah dipesan sekaligus juga sambil menanti teman istri yang katanya mau datang. Tidak lama kemudian teman istri yang mantan teman SMAnya datang bersama suami dan kedua anaknya. Kami sempat ngobrol meskipun tidak lama karena travel sudah datang. Apa boleh buat, meskipun hanya sebentar tetapi setidaknya sudah ketemu.

Kami naik travel untuk pulang ke Bogor sama seperti saat kami datang ke Bandung. Saat berangkat kalau nggak salah menggunakan travel Trans Bima, pulangnya pakai Cipaganti. Ongkosnya sama, Rp80.000 per kepala. Sebelum keluar dari komplek UPI, kami sempatkan foto dengan latar belakang gedung Isola yang merupakan peninggalan kolonial dan cukup unik bentuknya. Berfoto di depan gedung bundar itu adalah acara penutup liburan kami di Bandung.

Bandung euy! Meskipun kamu sudah tidak sedingin dulu dan jadi kota macet, saya tetap akan datang menemuimu. Sampai jumpa lagi Bandung.

Sumber gambar: koleksi pribadi, logo MU di sini

4 COMMENTS

  1. @Miftahgeek: hayuk atuh dijadwalin… jalan2 bro, penting tuh 😉
    @la omah: tinggal atur jadwal aja kapan mau berangkat :mrgreen:
    @Ann: yang jelas, masih banyak buku yang belum kebaca mas. harus dipaksa mas agar bisa ke bandung 😉

  2. Beli buku memang gak bakal rugi cuma mungkin belinya dicicil (tidak sekaligus) biar tidak terlalu memberatkan.
    Keinginan untuk ke Bandung belum bisa kesampaian 🙁

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here