arti kehidupan - obituari: yulius caesar bangsa ratu
saat jenasah akan diberangkatkan

Hari ini saya kembali diingatkan tentang arti kehidupan. Hidup yang hanya sekali ini sudah seharusnya diisi dengan kebaikan-kebaikan. Tidak ada gunanya menyombongkan kekayaan, pamer jabatan, tidak peduli orang lain, dan hal-hal negatif lainnya. Ketika ajal menjemput, semua yang dibanggakan dan disombongkan semakin tidak ada gunanya. Meninggalnya mantan tetangga saya pak Yulius pagi ini kembali membuat saya mempertanyakan makna hidup yang telah saya jalani selama ini.

Kembali seperti saat mendapat kabar kematian istrinya lima tahun yang lalu, pagi ini saya terkejut ketika para mantan tetangga di Darmaga Pratama menginformasikan baik melalui sms, inbox di Facebook, maupun telepon, bahwa pak Yulius meninggal. Tentu saja saya jadi penasaran dan langsung menanyakan penyebabnya. Sayangnya tidak ada jawaban yang pasti, hanya menebak-nebak. Pagi itu juga saya meluncur ke rumah beliau untuk ikut berbela sungkawa.

 

Malam ini, ketika menulis artikel ini saya coba lihat kembali tulisan yang pernah saya buat tentang bu Yulius lima tahun lalu. Ternyata, meninggalnya istri pak Yulius ini terjadi di bulan yang sama yaitu Juni dan tanggalnya hanya selisih satu hari. Bila bu Yulius dulu meninggal pada 21 Juni, suaminya 20 Juni. Sudah pasti ini bukan sebuah kematian yang direncanakan tetapi hanya sebuah kebetulan dan ini jelas rencana Tuhan. Saya hanya bertanya dalam hati, “Kok bulannya bisa sama persis ya?”

 

Cerita para sahabat sekaligus mantan tetangga, dua minggu yang lalu pak Yulius mengalami kecelakaan motor di Leuwiliang saat pulang dari Lampung, daerah asalnya. Rupanya beliau suka ke Lampung dari Bogor dengan mengendarai motor. Luar biasa! Saya bayangkan jika saya yang melakukan itu alangkah capainya. Barangkali saat kecelakaan beliau juga dalam keadaan capai dan ngantuk. Akibat kecelakaan itu kaki kirinya mendapat 12 jahitan, atau 50 jahitan bila berdasarkan gosip yang beredar di kalangan ibu-ibu. Setelah kecelakaan itu, beliau masih melakukan aktifitas seperti biasa. Dari cerita para tetangga, pak Yulius tidak begitu peduli dengan lukanya. Dan itulah nampaknya yang berakibat fatal.

 

Hari Jum’at kemarin, pak Yulius kembali jatuh dari motor di dekat rumahnya. Apakah jatuhnya gara-gara polisi tidur dan kondisi jalan yang memang lagi rusak, atau karena beliau ngebut karena memang selalu ngebut saat naik motor maupun mengendarai mobil, atau karena sakit. Tidak ada tetangga yang tahu pasti. Kapan persisnya pak Yulius jatuh, saya juga tidak tahu. Entah saat mau berangkat sholat Jum’at atau setelah selesai sholat. Kata istrinya (yang dinikahi setelah istri pertama meninggal) saat mau berangkat, beliau sudah dalam keadaan menggigil. Pak Yulius sempat diingatkan istrinya untuk tidak sholat dulu ke masjid tetapi malah marah-marah. Saya bisa bayangkan bagaimana pak Yulius marah karena selama bertahun-tahun saya sempat hidup bertetangga dengannya. Beliau yang jago masak ini, mungkin lebih hebat dari Farah Quinn, orangnya memang temperamental.

 

Tadi malam (malam Senin), pak Yulius meraung-raung kesakitan. Beliau mengeluhkan pinggangnya yang sakit. Pak Dhani yang tinggal berhadapan dengan beliau kemudian mengantarkan periksa ke klinik 24 jam. Kata dokter jahitan di kakinya terlambat diperiksa dan terlanjur infeksi. Setelah kembali dari klinik 24 jam pak Yulius masih mengeluh kesakitan. Sekitar jam tiga pagi, pintu rumah pak Dhani kembali diketuk keluarga pak Yulius untuk mengantarkan kembali ke dokter. Ketika pak Dhani datang dan memeriksa keadaannya, ternyata pak Yulius telah tiada. Anak-anak pak Yulius yang dari istri pertama dan istrinya rupanya tidak tahu bahwa sebenarnya beliau sudah meninggal. Kemungkinan besar perenggut nyawanya adalah infeksi lukanya, mungkin tetanus ada pula yang menduga gangrene.

 

Innalillahi wa innaillaihi roojiuun. Semoga segala amal perbuatan beliau selama hidup di alam fana ini dapat diterima Allah SWT. Selamat jalan pak Yulius. Sebagian lembaran kehidupan saya telah terisi oleh persahabatan dan ‘permusuhan’ kita saat kita masih bersama dulu. Apapun itu, anda adalah bagian dari arti kehidupan saya.

2 COMMENTS

  1. innalillahi wainnailaihi roji’un…
    kalau mengingat tentang ajal..ternyata belumlah seberapa amal yang kita kumpulkan di dunia ini,,meskipun sudah hidup berpuluhan tahun…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here