reyhanHari ini (3/9/10) terpaksa saya melakukan kebodohan. Bodohnya lagi, saya dengan sukarela membayar ratusan ribu rupiah untuk melakukan tindakan itu. Namun yang membuat saya tenang, kebodohan itu memang harus saya lakukan.

Jika anda membaca tulisan ini tanggal 7/9/10, memang saya sengaja menjadwalkannya untuk terbit tanggal tersebut. Tulisan ini sendiri sebenarnya saya buat di hari yang sama dengan terjadinya tindakan bodoh yang saya lakukan. Karena diwanti-wanti oleh subyek cerita ini agar tidak membocorkan ke publik, maka saya sekuat tenaga menahannya. Menahan diri selama empat hari rasanya masih kuatlah.

Barangkali anda penasaran mengapa saya menyebut perbuatan yang saya lakukan itu sebuah kebodohan. Bagaimana tidak disebut bodoh bila saya membiarkan orang lain menyakiti anak saya dan kemudian saya membayarnya? Aaahhhh… mata ini berkaca-kaca dan hati begitu perih melihat anak saya melolong-lolong kesakitan tanpa saya bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa menggenggam tangannya sambil menghibur dan menenangkannya. Sementara ibunya juga cuma bisa melakukan hal yang sama seperti saya. Dia hanya bisa mendekap dan menghibur. Sementara itu, si penyiksa dengan tenangnya menyakiti anak saya. Dengan senjata laser di tangan, dia berhasil meluluhlantakkan pertahanan anak saya yang biasanya tahan sakit.

Yang membuat hati ini teriris-iris adalah upaya dia menahan rasa sakit. Bibir bawahnya terus bergetar karena kesakitan yang tidak terkira. Dia terus meratap-ratap, mengaduh-aduh. Katanya, sakitnya makin menyakitkan. Bahkan saat sudah sampai di rumahpun, bibirnya masih bergetar hebat. Ya Allah, kuatkanlah dia. Apa yang harus saya lakukan untuk membantunya? Bila mungkin, saya ingin sakitnya itu pindah ke diri saya. Saya siap menanggungnya, menderita demi dia. Aahhh…

Menghadapi keadaan seperti itu, saya merasa sebagai seorang ayah yang tidak berguna. Tanpa bisa menolong dan mengurangi rasa sakitnya, hanya bisa menenangkan dan menghibur. Saat ini saya hanya dapat berdoa mudah-mudahan sakitnya cepat sembuh. Semoga rasa sakit itu mulai mereda dan mereda. Bertahanlah nak.

Ketika tulisan ini anda baca pada 7/9/10, berarti kami sedang melakukan perjalanan mudik. Doakan anak saya sudah sembuh total. Saya berharap, saat anda membaca tulisan ini, Reyhan anak saya yang saya ceritakan ini sudah tersenyum ceria, tertawa ngakak seperti biasa kala dia gembira. Itulah yang hilang ketika tulisan ini saya buat, diganti dengan rintihan dan lolongan.

Kepada pak dokter yang menyunat anak saya, bagaimanapun juga saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan saja apa yang anda katakan benar. Semua berjalan dengan baik. Semoga Reyhan bisa sembuh dalam waktu sesuai yang diperkirakan.

Sebagai salam penutup, meskipun masih beberapa hari lagi, tak lupa saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi anda yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here