Ini adalah tulisan kedua tentang sebuah novel yang berjudul Anak Sejuta Bintang. Tulisan pertama yang saya buat tiba-tiba menghilang bersama tujuh tulisan lain termasuk salah satunya artikel tentang kasus Marissa Haque yang mengubah komentar di blognya menjadi fitnah. Mengapa bisa raib begitu?

Tentu saja saya berpikiran positif dengan hilangnya delapan tulisan tersebut. Ketika tulisan ini dibuat, saya memang belum menghubungi perusahaan hosting yang menyediakan server untuk blog yang sedang anda baca ini. Saya perkirakan penyebab terhapusnya lima tulisan di bulan Januari 2012 dan tiga tulisan pada Desember 2011 adalah pihak perusahaan hosting melakukan recovery atau semacamnya. Mudah-mudahan dugaan saya itu benar. Jika ternyata mereka tidak melakukan apa-apa yang mengakibatkan musnahnya tulisan-tulisan tersebut, itu artinya ada campur tangan dari luar, hacker misalnya. Bila memang itu yang terjadi, alangkah naifnya. Di jaman kemajuan teknologi informasi semacam ini, pemberangusan terhadap hak bicara adalah sebuah tindakan bodoh dan ‘jadul’. (Catatan: delapan tulisan itu telah berhasil muncul kembali hari ini.)

Tulisan pertama saya berjudul Anak Sejuta Bintang: Sebuah Novel Pencitraan memang memerahkan telinga orang-orang yang terlibat penerbitan novel tersebut. Pro kontra tentang novel yang jelas-jelas merupakan pencitraan Aburizal Bakrie meskipun mati-matian disanggah itu telah menarik perhatian banyak orang. Apalagi dengan gencarnya kampanye promosi yang dilakukan baik di media cetak maupun elektronik, hal itu semakin membuka mata dan telinga bangsa ini tentang keberadaan seorang Ical yang menjadi tokoh sentral novel ASB. Itulah yang diinginkan oleh sang tokoh tentunya, publik agar tahu bahwa ada kisah masa kecil yang indah dari Aburizal Bakrie, orang yang paling bertanggung jawab atas musibah yang terjadi di Porong, Sidoarjo. Sebuah pencitraankah? Jelas! Apapun alasan yang disampaikan untuk menyanggah fakta itu, terbitnya Anak Sejuta Bintang jelas sebuah upaya untuk memoles citra Ical menjelang pemilihan presiden 2014 nanti agar terlihat lebih kinclong. Tak salah jika Goenawan Mohamad menyebut ASB sebagai ‘sastra pilpres’. Itulah inti tulisan pertama saya tentang ASB.

Lalu, mengapa saya menganggap novel ini tidak pantas dibeli dan dibaca? Keputusan saya untuk tidak membeli dan membaca Anak Sejuta Bintang tentu saja sifatnya personal. Apakah anda mau melakukan seperti yang saya kerjakan atau malah sebaliknya, itu urusan anda. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi kepada anda alasan mengambil keputusan seperti itu. Bagi saya, buku adalah harta karun yang harus dimiliki. Saya tidak ragu untuk menghabiskan ratusan ribu rupiah bahkan hanya untuk sebuah buku, namun tidak untuk novel yang satu ini. Saya tidak akan mengeluarkan uang dari dompet hanya untuk membeli sebuah novel pencitraan semacam ASB. Sayang bila uang yang ada digunakan untuk membeli novel yang sudah hilang keindahan nilai sastranya. Lain ceritanya bila seluruh uang penjualan disumbangkan untuk korban lumpur Lapindo. Mungkin saya akan berubah pikiran.

Novel beraroma politik ini jelas tidak berkisah tentang lumpur Lapindo. Namanya juga novel biografis, pasti berkisah tentang perjalanan hidup seseorang. Namun melalui novel yang mengisahkan Ical kecil dari usia TK sampai menjelang SMP ini, kita jadi tahu bagaimana karakter manusia yang ada di balik bencana di Porong terbentuk. ASB sangat bertolak belakang dengan novel berjudul Lumpur yang berkisah tentang bencana lumpur Lapindo. Novel karya Yazid R. Passandre ini jelas lebih mendidik untuk berempati terhadap korban lumpur Lapindo. Sayangnya ada kejanggalan yang terjadi dengan novel tersebut ketika diluncurkan. Saat acara peluncuran sekaligus bedah buku yang digelar 12 November 2011 pukul 13.00-16.00 WIB di Functions Room Lt. 2 TB Gramedia Matraman, tidak satupun jurnalis yang hadir padahal ada 16 media cetak dan elektronik yang diundang. Padahal juga, undangan yang datang adalah tokoh, budayawan, dan sastrawan yang tidak main-main. Ada apa gerangan?

ASB itu tidak beda dengan hasil kerja seorang tukang jahit. Seorang tukang jahit tak mungkin memberi kolor bila konsumennya memesan baju. Demikian juga dengan ASB. Karena novel ini adalah produk pesanan maka isi dari novel itu sudah bisa ditebak. Isinya tidak akan jauh-jauh dari sanjung dan puji bagi Ical kecil. Meski penulisnya menyatakan lewat akun Twitter bahwa Aburizal Bakrie tidak pernah ikut campur dalam pembuatan ASB, bukan berarti sang penulis akan menghasilkan karya yang tidak disukai pemesannya. Bunuh diri itu namanya. Karena merupakan hasil pesanan, novel ini tentu saja berisi segala hal yang menyenangkan bagi pemesannya. Jika sudah demikian, mungkinkan akan menjadi sebuah karya sastra yang indah? Tak akan pernah terjadi sebuah buku menjadi menarik begitu dipolitisir. Perilaku memolitisir novel ini otomatis menghilangkan keindahannya. Bila sudah tidak ada yang menarik, untuk apa saya membaca. Kalaupun saya ingin membacanya, paling saya akan pinjam dari teman atau ke toko buku, dan itupun tak mungkin saya lakukan.

Saya pasti tidak akan membaca ASB. Cerita dari teman-teman yang telah membaca sudah cukup untuk menebak apa yang tertulis di dalamnya. Bila bahasa yang digunakan begitu indah, hal itu tidak mengherankan karena penyuntingnya memang luar biasa. Saya memiliki beberapa bukunya yang salah satunya adalah buku ke-12 dia, Mengawini Ibu, sebuah buku antologi cerpen.

“Terima kasih juga saya sampaikan kepada penyunting, Khrisna Pabichara, yang membuat novel ini terwujud dalam bentuknya sekarang.”

Itulah ucapan terima kasih dari penulis ASB terhadap Khrisna Pabichara yang terdapat di halaman 402 yang menjadi bukti kehebatan sang penyunting. Dibandingkan penulisnya, Khrisna Pabichara lebih berpengalaman dalam membidani lahirnya buku. Jam terbangnya dua kali lebih banyak. Jika ASB adalah buku keenam dari penulisnya, April nanti, buku Khrisna yang ke-13 dijadwalkan akan terbit. Memang sudah galipnya seperti itu, yang berpengalaman dan berkualitaslah yang memperbaiki. Bukan sebaliknya.

Sumber gambar: novel Lumpur

8 COMMENTS

  1. […] Terkait novel Anak Sejuta Bintang yang sudah dua kali saya tulis dan ini adalah artikel ketiga, saya termasuk pembaca yang menggugat karya tersebut. Meskipun bukan saya yang membaca tetapi teman-teman saya, itu sudah cukup untuk mengambil sikap atas hadirnya novel pencitraan ini. Tidak ada kebencian apapun terhadap penulisnya. Saya tidak kenal secara pribadi dengan Akmal Nasery Basral yang menjadi penulisnya. Ketemu muka sekalipun, tidak. Jadi, tidak selayaknya saya memusuhi dia. Namun ketika novel ini muncul, saya tak mau tinggal diam. Saya hanya prihatin dengan dituliskannya novel nirsastra ini. Saya katakan nirsastra karena wilayahnya sudah dikotori oleh ambisi politik Aburizal Bakrie yang merupakan jelmaan dari Ical kecil yang menjadi tokoh utama novel tersebut. Dengan demikian, bagi saya, keindahan novel itu sebagai karya sastra sudah tidak ada lagi. Saya telah menuliskan hal ini panjang lebar di tulisan sebelumnya, Alasan Tidak Membeli & Membaca “Anak Sejuta Bintang”. […]

  2. ada seorang anak hobi-nya mengumpulkan berbagai jenis binatang, oleh seorang penulis diangkat menjadi sebuah novel dengan judul : Anak Sejuta Binatang!! wkf wkf wkf….

  3. kalo saya sih masa bodoh dg sastra pilpress atau pun pilkoplo. sy tak simpatik thd politikus dan salah satunya Ical. tapi saya perlu membaca agar bisa lebih mengenalnya, spt apa masa lalu yg membentuknya kini

Leave a Reply to MT Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here