life begins at 40 4-0Malaysia sudah mulai dengan laser maka telah tiba saatnya mengirim nuklir ke negara itu. Begitu kira-kira terjemahan dari kicauan provokatif berbahasa Inggris di Twitter tadi malam setelah pertandingan bola antara Indonesia dengan Malaysia. Entah penulis di Twitter itu orang Indonesia asli atau orang asing yang simpati dengan bangsa yang lagi gila bola ini.

Di jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, orang ramai memperbincangkan perilaku tidak sportif yang dilakukan pendukung kesebelasan Malaysia. β€˜#Lasers’ kemudian menjadi salah satu trending topic di Twitter. Gangguan laser dan petasan tadi malam memang terbukti sangat ampuh membuyarkan konsentrasi para pemain Indonesia. Lebih-lebih timnas Garuda ini baru pertama kali main di luar negerinya sendiri dan sebagian besar anggota tim nampak demam lapangan. Mereka terlihat bermain tidak sebagaimana biasanya mereka main. Kerjasama mereka acak-acakan. Para pemain Malaysia betul-betul menguasai lapangan dan mendikte permainan. Dalam waktu 12 menit di paruh waktu kedua, mereka berhasil mencetak tiga gol. Luar biasa. Bagaimana ini bisa terjadi pada tim Indonesia yang katanya membuat keok Malaysia dengan skor 5-1 saat di babak penyisihan? Katanya banyak faktor terutama faktor nonteknis yang menjadi penyebabnya. Yang pasti, banyak penderita virus AFF dari Indonesia menjadi kelepek-kelepek.

Saya termasuk salah satu pasien yang terjangkit virus AFF. Yang biasanya tidak peduli dengan bola, saat ini saya sangat menantikan siaran pertandingan final piala AFF. Dan tadi malam, saya begitu terbengong-bengong menyaksikan permainan tim nasional Indonesia. Saya juga terheran-heran melihat ketidaksportifan pendukung kesebelasan Malaysia. Sampai sebegitukah upaya menjadikan timnya menang? Saat Indonesia dikalahkan, alangkah masgul hati ini. kekecewaan jelas langsung muncul. Saya menjadi lemas menyaksikan tim Indonesia dihabisi dalam waktu 12 menit. Yang lebih menyebalkan lagi, perilaku pendukung tim Malaysia yang sungguh memalukan. Masak permainannya perlu sportifitas, pendukungnya tidak sportif? Bagaimanapun juga, kekalahan itu tetap harus bisa diterima dengan lapang dada. Yang namanya pertandingan pasti ada menang kalah. Ketika kalah, hal itu juga merupakan posisi terhormat karena telah memberi kesempatan lawannya menang.

Pagi ini acara di televisi-televisi masih mengulas pertandingan bola tadi malam. Di MetroTV wartawan senior Budiarto Sambazy menjadi salah satu tamu dalam acara bincang-bincang pagi. Dia menghimbau olahraga janganlah dipolitisir. Ucapannya itu untuk menanggapi kelakuan ketua umum Golkar Aburizal Bakrie yang mengajak anggota timnas makan bersama saat masih ada di Indonesia. Karena sudah kepalang basah ketahuan mempolitisir, Aburizal Bakrie disarankan menurunkan Nurdin Halid yang menjadi ketua PSSI demi kepentingan bangsa ini. Nurdin Halid sudah dianggap sebagai number one public enemy saat ini. Berani nggak Bakrie mencopot kader partai politiknya dari jabatan tersebut?

Kembali saya terheran-heran. Keheranan saya bukan dikarenakan Budiarto Sambazy tetapi oleh pernyataannya tentang Aburizal Bakrie dan Nurdin Halid. Sebenarnya saya heran sendiri mengapa saya jadi terheran-heran dengan hal yang sering terjadi di negeri ini. Sudah bukan hal yang aneh kan kejanggalan-kejanggalan macam itu terjadi di negeri ini? Koruptor yang ada di dalam penjara saja bisa gentayangan nonton pertandingan tenis di tempat yang begitu jauh dan nginap di hotel bintang lima.

Ketika kemudian kekalahan Indonesia atas Malaysia dikait-kaitkan dengan Aburizal Bakrie dan Nurdin Halid, hal itu bukan suatu hal yang aneh lagi. Saat faktor nonteknis penyebab kekalahan timnas Indonesia dihubungkan dengan kepemimpinan Nurdin Halid sebagai ketua PSSI dan kemudahan ketua umum Golkar mempolitisir timnas karena ketua PSSI adalah kadernya, siapa yang bisa menyangkal? Tetapi jangan heran jika kemudian muncul sangkalan.

Perihal angka 4-0, itulah skor keramat yang harus diraih timnas Garuda pada 29 Desember nanti. Indonesia harus bisa mendapatkan empat gol agar dapat membawa pulang piala AFF 2010. Kalau buat manusia dibilang Life begins at 40, bagi timnas Indonesia Win begins on 4-0.

5-1 saja bisa, masak 4-0 nggak bisa? Memang sih komposisi pemain Malaysia saat dikalahkan berbeda dengan yang tadi malam dan mainnya juga di kandang sendiri yaitu Gelora Bung Karno. Tapi boleh kan optimis yang agak lebay macam gini?

Sumber gambar: di sini

Catatan:
Tulisan ini disertakan dalam lomba yang diadakan Worldcupdistro.com – Distronya Suporter Bola.

10 COMMENTS

  1. meskipun tidak 4-0, indonesia mampu memenangi pertandingan itu. apapaun kita syukuri.

    oh ya salam kenal kang. terima kasih telah diterima dg baik.

  2. menang kalah udah biasa…yang penting sportifitas dan tidak menghalalkan segala cara untuk menang pak…

    Timnas jangan dihujat kalo gagal…tetep kasih dukungan yg terbaik supaya bisa menang…

Leave a Reply to anum Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here