stasiun tugu yogyakartaSebelum 31 Juli 2010, secara emosional saya tidak ada ikatan dengan Yogyakarta. Namun semenjak bertemu sebuah komunitas bernama Gelatik Selam, saya dipaksa menggadaikan emosi saya di kota gudeg itu.

Sebenarnya sebutan bujang untuk kami bertiga kurang pas. Dari tiga orang, hanya satu yang benar-benar bujang. Yang dua lagi kalaupun disebut bujang, ada embel-embel ‘mantan’ di depannya. Kurang pas, itu jika hanya dilihat statusnya. Kami tidak melihat status tersebut, dan kami tidak peduli. Kami merasa masih bujang. Semangat kami adalah semangat kaum bujangan. Right or wrong, kami bujang. Halah, maksa.

Niat untuk pergi ke Yogyakarta muncul ketika membaca sebuah undangan gathering sekaligus workshop di internet. Undangan itu berisi ajakan nongkrong-nongkrong dan ngobrol-ngobrol dengan para online publisher yang tergabung dalam Gelatik Selam. Dengan biaya pendaftaran yang cukup murah, Rp 50.000, si pengundang menjanjikan akan menyediakan akomodasi dan konsumsi selama pelaksanaan acara yang diadakan 31 Juli dan 1 Agustus. Dan janji itu mereka penuhi. Para peserta yang berjumlah 100 lebih dilayani dengan baik dan ditempatkan di kamar-kamar hotel yang sudah disediakan di daerah wisata berhawa sejuk Kaliurang. Karena begitu menarik topik bahasan yang akan digelar dalam acara itu, mendaftarlah kami.

3 bujang ke keratonSaya dan tiga teman lain dari komunitas blogger Bogor, Blogor, selanjutnya tercatat sebagai peserta acara ’Nganggur Itu Anugerah’ yang diadakan Gelatik Selam. Nama kami sudah ada di antara peserta lain yang bisa dilihat di situs penyelenggara. Kami menemukan nama-nama kami: Wong Kam Fung alias WKF, Akhdian, Fajar Suyamto, dan Unggul Sagena. Sayangnya Unggul batal berangkat karena ada acara mendadak. Agar tidak mubadzir, jatah Unggul kemudian digunakan Arifin teman kami yang tinggal di Yogya.

Perjalanan diawali Jum’at sore (30/7) dari Bogor ke Jakarta menggunakan krl. Kami turun di stasiun Gondangdia menjelang isak. Harusnya bisa sampai lebih cepat seandainya pemberangkatan dari stasiun Bogor tidak molor. Perjalanan disambung dengan Kopaja jurusan Pasar Senen. Sayangnya baru jalan 10 meter Kopaja sudah kejebak macet. Perempatan di bawah stasiun Gondangdia penuh kendaraan saling silang seperti swastika (simbol nazi). Kami memutuskan turun dan berjalan kaki menuju patung tani. Sialnya, baru berjalan 50 meteran Kopaja yang tadinya kami naiki berhasil terlepas dari kemacetan dan lewat di sebelah kami. Ngebut lagi. Setelah lewat jembatan Kwitang, akhirnya diputuskan naik bajaj. Tanpa menawar saat sopir bajaj menyebutkan ongkos Rp 8.000 kami menyiksa bajaj dengan empet-empetan bertiga di belakang sopir. Bajaj membawa kami ke stasiun Senen. Kami yang di dalam bajaj berharap mudah-mudahan tidak ketinggalan kereta ekonomi yang menuju Yogyakarta. Sekedar berharap karena kami bertiga tidak tahu pasti jam keberangkatan kereta.

Sampai di stasiun, segera kami bertanya petugas di mana loket untuk membeli kereta ekonomi Progo jurusan Yogya setelah tidak berhasil mencari sendiri. Sampai di depan loket, ternyata loket sudah tutup. Dari petugas, kami dapat kabar tiket kereta Progo tidak dijual lagi karena sudah penuh. Apa boleh buat terpaksa merogoh kantong lebih dalam lagi untuk membeli karcis kereta kelas bisnis Senja Utama Rp 130.000. Tadinya mau ngirit dengan naik kereta ekonomi, sayangnya rencana itu tidak kesampaian. Demi ilmu yang ada di Yogya, berapapun harga tiket kami siap bayar (padahal terpaksa 😆 ).

Bersambung … (Bertemu Christina Aguilera)

Sumber gambar: stasiun Tugu

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here