>

Saya ini bukan penderita disleksia, kelainan saraf pada otak yang menyebabkan kesulitan dalam membaca. Jelas saya bisa membedakan 16 dengan 19, Juni dengan Juli. Nggak mungkin saya jadi pengajar kalau punya kelainan itu. Buktinya juga saya bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Dan lulus. Tapi saya suka lupa. Kalau ini manusiawi, bukan penyakit. Sejak dulu, saya sering lupa akan tanggal kelahiran sendiri. Malahan dulu bukan hanya tanggal tapi juga bulan. Kadang saya suka bingung kapan saya lahir. 16 apa 19, Juni apa Juli. Saat lihat ktp, baru yakin kalau saya lahir 19 Juni.

Setelah berkeluarga dan punya anak, kok ya muncul sebuah kebetulan. Anak saya yang pertama lahir tanggal 16 Juli. Nah lo! Otomatis makin lieur perihal ingatan saya tentang tanggal kelahiran. Untungnya anak kedua saya meskipun bulannya juga Juli tapi tanggalnya tidak 16 atau 19. Kelahiran sendiri saja rancu, apalagi ditambah kelahiran anak. Komplit deh.

Masalah 16 atau 19 ternyata bukan pemiliknya (saya) saja yang bingung. Ternyata teman-teman muda saya ada juga yang keliru. Mereka ngucapin met ultah pada tanggal 16 untuk ulang tahun tanggal 19. Saya nggak tahu apakah karena salah informasi atau lagi lalai. Yang pasti saya yakin mereka bukan penderita disleksia.

Senang rasanya banyak yang memberikan ucapan selamat. Dengan demikian saya jadi sadar ternyata banyak yang peduli. Tanpa bermaksud mengesampingkan perhatian yang diberikan, tanggal kelahiran bukanlah hari istimewa bagi saya. Tanggal tersebut hanya mengingatkan bahwa saat itu saya telah dilahirkan. Tidak pernah ada pesta khusus untuk merayakannya. Apalagi pakai ngadain orkes segala.

Ketika ada yang mengucapkan panjang umur, sebenarnya yang terjadi justru sebaliknya. Seharusnya yang diucapkan adalah selamat pendek umur. Bila ini yang dilakukan, lucu kali ya. Pasti dianggap aneh. Tidak biasa-biasanya. Bisa-bisa kita dituduh sebangsa alien. Tapi emang bener kok. Bukan bener kita ini alien. Tapi bener kalau ucapan yang disampaikan lebih cocok pendek umur. Mengapa?

Kita kan tinggal di muka bumi ini ibarat kontrak rumah. Setiap kali sampai pada tanggal kelahiran, pada saat itu genap setahun usia kita telah berkurang. Jatah umur yang diberikan untuk hidup di dunia susut satu tahun. Namun okelah. Nggak perlu mikir yang rumit-rumit. Apalagi kalau kita saja masih tinggal di rumah kontrakan.

Bagaimanapun juga, saya amat sangat banget berterima kasih atas ucapan, doa, dan perhatian yang diberikan. Termasuk buat istri saya yang mentraktir makan siang di hokben dan nonton Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer. Kalau anda mau membuat saya lebih senang lagi, gampang. Saya kasih tahu caranya. Untuk tahun depan, tolong dirayakan dengan mengadakan konser Il Divo atau Josh Groban. Gun & Roses juga boleh. Di lapangan bola dekat rumah saya. 😉

SHARE
Previous article>Ujian
Next articleBila Saatnya Tiba

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here